Sia-sia Gelarnya, Dokter Aparatur Sipil Negara Jadi Tersangka Karena Lakukan Vaksin Tanpa Ijin

Sia-sia Gelarnya, Dokter Aparatur Sipil Negara Jadi Tersangka Karena Lakukan Vaksin Tanpa Ijin

Medan, venusnews.co|

Kepolisian Daerah Sumatera Utara menetapkann 2 orang dokter yang berstatus Pegawai Negeri Sipil di Sumatera Utara menjadi tersangka Karena melakukan kegiatan vaksinasi secara ilegal.

Dokter laki-laki berinial dr IW (45), bertugas di Rutan Tanjung Gusta Medan.

dr IW ditetapkan sebagai tersangka penerima suap

Satu lagi dokter laki-laki yang bekerja sebagai Aparatur Sipil Negara pada Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Utara berinisial KS juga ditetapkan tersangka penerima suap.

Ada total 4 orang yang ditetapkan tersangka dalam kasus vaksinasi ini.

Tiga orang merupakan Aparatur Sipil Negara dan satu orang merupakan masyarakat biasa yang yang berprofesi sebagai agen Property di Medan.

Berikut kronologi peristiwa vaksinasi ilegal yang dilakukan oleh ke empat tersangka.

Pada Selasa tanggal 18 Mei 2021 sekira pukul 15 Wib, tersangka atas nama Selvy Wati yang merupakan agen properti Perumahan berperan selaku penyelenggara yang melaksanakan kegiatan vaksinasi yang tidak sesuai dengan peruntukannya kepada beberapa kelompok warga masyarakat di Komplek Perumahan Jati Residence Jalan Perintis Kemerdekaan Kecamatan Medan Perjuangan kota Medan.

Pelaksanaan vaksinasi tersebut dilakukan oleh dua orang Tenaga Kesehatan sebagai petugas vaksinator yaitu atas nama Chufransyah Hakiki Simamora dan Elida Nawati boru Sitanggang yang keduanya merupakan tenaga kesehatan dari Lapas Tanjung Gusta serta diikuti oleh 50 orang.

Para peserta vaksinasi membayar biaya vaksinasi dan jasa penyuntikan vaksin sebesar Rp 250.000,- per orang kepada Selviwaty yang merupakan wanita agen property secara tunai atau transfer dan selanjutnya uang tersebut diserahkan kepada Indra Wirawan sebesar Rp 220.000,- per orang. Sisanya Rp 30.000, menjadi fee untuk Selfie Wati.

Vaksin yang diperjualbelikan merupakan vaksin dari Lapas Tanjung Gusta yang diperuntukkan bagi tenaga lapangan dan warga binaan namun disalahgunakan dengan diperjualbelikan kepada pihak yang tidak berhak.

Pelaksanaan vaksinasi ilegal ini telah dilaksanakan sebanyak 15 kali di beberapa lokasi di antaranya di daerah Perumahan Jati Residence Medan sebanyak 6 kali, dilokasi ruko The Great Arcade Komplek Cemara Asri Medan sebanyak 2 kali, dilokasi Club House Citraland Bagya City Medan sebanyak 3 kali, di Jalan Palangkaraya nomor 109 A/36 Medan sebanyak 3 kali dan di Pulau Jawa tepatnya Komplek Puri Deltamas Jakarta sebanyak 1 kali.

Kegiatan itu semuanya dilakukan dalam kurun waktu bulan April sampai dengan Mei 2021 dengan perincian tujuh kali pelaksanaan vaksin dengan vaksin yang diperoleh dari oknum dokter IW Aparatur Sipil Negara dari Lapas Tanjung, 8 kali pelaksanaan vaksinasi dengan vaksin yang diperoleh dari KS oknum Aparatur Sipil Negara dari Dinas Kesehatan Provinsi Sumut.

Total jumlah orang yang di vaksin selama 15 kali pelaksanaan vaksinasi yang tidak sesuai peruntukan kurun waktu April sampai dengan Mei 2021 sebanyak 1085 orang dengan nilai suap sebesar Rp 238.700.000,- dan fee untuk pemberi suap wanita agen property sebanyak Rp 32.550.000,-

Wanita Agen property di jerat sebagai Pemberi dengan pasal 5 ayat 1 huruf a dan b dan atau pasal 13 undang-undang RI Nomor 31 tahun 1009 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan undang-undang RI nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas undang-undang RI Nomor 39 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi.

Para dokter di jerat sebagai penerima suap disangkakan pasal 12 huruf a dan b dan atau pasal 5 ayat 2 dan atau pasal 11 undang-undang RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi sebagaimana diubah dengan undang-undang RI nomor 20 tahun 2001 tentang perubahan atas undang-undang RI Nomor 31 tahun 1999 tentang pemberantasan tindak pidana korupsi

Dokter ini juga di jerat dengan pasal 64 ayat 1 KUHP (perbuatan berlanjut/ concursus) serta pasal 55 KUHP

Ancaman hukuman pidana penjara selama seumur hidup atau pidana penjara paling singkat 4 tahun dan paling lama 20 tahun dan pidana denda paling sedikit Rp 200.000.000,- dan paling banyak Rp 1.000.000.000,- ( satu miliar rupiah).

Ke empat orang tersangka dilakukan penahanan guna menjalani pemeriksaan lanjutan.

 

(Red)